BI Alami Defisit Rp1,42 Triliun

Jakarta, (ANTARA News) - Bank Indonesia (BI) mengalami defisit sebesar Rp1,42 triliun namun rasio kecukupan modal BI masih di atas tiga persen sehingga tidak memerlukan suntikan modal dari pemerintah. "Defisit sebesar Rp1,42 triliun berasal dari selisih antara jumlah beban BI sebesar Rp30,46 triliun dengan penerimaan BI sebesar Rp29,04 triliun," kata Deputi Gubernur BI Ardhayadi M. dalam pertemuan dengan redaktur dan redaktur pelaksana sejumlah media massa awal pekan ini di Jakarta. Defisit BI sebesar Rp1,42 triliun itu terungkap dalam Laporan Keuangan BI selama 2007 yang diterbitkan pada Mei 2008 ini. Selain memuat laporan surplus-defisit, laporan keuangan BI antara lain juga memuat Neraca BI per 31 Desember 2007. "Laporan keuangan ini telah diaudit oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dengan pendapat wajar tanpa pengecualian," kata Ardhayadi. Jumlah penerimaan sebesar Rp29,04 triliun terdiri dari penerimaan pengelolaan moneter Rp28,39 triliun, pengelolaan sistem pembayaran Rp153,12 miliar, pengawasan perbankan Rp145,86 miliar, dan penerimaan lainnya Rp350,16 miliar. Sementara beban sebesar Rp30,46 triliun terdiri dari pengendalian moneter Rp25,03 triliun, penyelenggaraan sistem pembayaran Rp1,65 triliun, pengaturan dan pengawasan perbankan Rp153,29 miliar, dan beban umum dan lainnya Rp3,63 triliun. Kondisi 2007 sangat berbeda dengan kondisi tahun 2006 di mana tahun 2006 BI mengalami surplus sebesar Rp31,01 triliun. "Tahun 2006 sebenarnya BI mengalami defisit sebesar Rp6,92 triliun yang berasal dari selisih antara jumlah beban sebesar Rp37,96 triliun dan penerimaan sebesar Rp31,04 triliun. Namun dalam tahun 2006 ada penerimaan luar biasa sebesar Rp37,93 triliun," kata Ardhayadi. Pos penerimaan luar biasa itu berasal dari restrukturisasi surat utang pemerintah nomor SU-002/MK/1998 dan SU-004/MK/1999 sesuai kesepakatan bersama Menteri Keuangan dan Gubernur BI tanggal 18 April 2006 tentang restrukturisasi dua surat utang itu. Sementara itu mengenai beban yang lebih besar selama 2006 dibanding 2007, Ardhayadi menjelaskan, pada tahun 2006 Indonesia memutuskan untuk menyelesaikan kewajiban kepada Dana Moneter Internasional (IMF) sehingga bebannya cukup besar. Pada Neraca per 31 Desember 2007, BI melaporkan harta BI mencapai Rp973,03 triliun atau meningkat dibanding 2006 yang mencapai Rp772,07 triliun. Sementara kewajiban BI per 31 Desember 2007 sebesar Rp861,40 triliun dan ekuitas BI sebesar Rp111,63 triliun. "Ekuitas BI terdiri dari modal Rp7,6 triliun, cadangan Rp64,45 triliun, keuntungan/kerugian yang belum direalisasi Rp40,99 triliun, dan surplus/defisit tahun berjalan Rp1,42 triliun," kata Ardhayadi.(*)

Posted in Labels: , |

0 comments:

Yahoo! Web Hosting - Build a great web site with our easy-to-use tools Your Ad Here

Online Payment

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.